Aku sedang duduk berdua bercengkerama dengan suamiku di ruang keluarga. Biasa membahas berbagai masalah yang kami hadapi, baik secara langsung maupun tidak. Dari yang sedang memanas, menghangat maupun mendingin (klise).
Pagi itu disela-sela "ngteh" kami membaca koran dan sesekali melihat berita tv yang sedang hangat,kami membahas dan bertukar pikiran tentang besarnya kasih sayang kedua orangtua dan dampak dalam kehidupan kita. Terutama Ibu, yang rasulpun sampai mengucapkan 3 kali baru disusul dengan jawaban Bapak setelah ditanya oleh sahabat rasul 'siapa yang pantas dihormati'.
Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tak perlu diragukan lagi. Dan benar-benar ibu mendidik kita setiap saat, setiap waktu hingga akhir hayatnya. Dari sebelum terbentuk dalam kandungan hingga kita besar dan berkeluarga sendiri kita tetap selalu mendapat pendidikan dari beliau.
Ada sebuah kisah dari teman, menjelang kembalinya sang ibu kepada Khaliknya.
Kala itu sang ibu sedang sakit keras diusianya yang sudah lanjut. Kejadian ini sewaktu sang ibu dirawat di rumah sakit. Selama hidupnya kasih sayang dan waktunya tercurah untuk merawat, mendidik dan menjaga keluarga (suami dan anak-anaknya) dengan ikhlas. Dan mungkin balasan dari Allahlah keluarga (suami dan anak-anaknya) pun sangat menyayangi dan menghormati beliau, hanya saja masing-masing mempunyai gaya sendiri-sendiri.
Dari sekian anak-anaknya ada seorang anaknya (fulan) yang wujud kasih sayang ke orangtuanya lain dari yang lain, selalu menjajikan yang indah untuk orangtua dan membuat kata-kata yang menyenangkan dan memberi harapan lebih kepada orangtua namun realisasinya menurut orangtuanya tsb masih kurang.
Mungkin sang ibu merasa usianya tinggal beberapa hari lagi akhirnya dengan kekuatan hati (yang selama ini dipendam dalam diamnya) memanggil si fulan yang kala itu kebetulan sedang menunggui sang ibu di RS bersama kakak perempuannya (fulanah), dan apa yang diucapkannya pun sungguh diluar dugaan mereka, "Nak, tolong beri aku uang." Deg. Hati sang anak pilu. Dengan cepat sambil mengulurkan tangan dengan sejumlah uang sambil berkata "ibu, ini ada uang sekian dulu kalo ibu masih memerlukan ibu tinggal bilang saja berapa jumlahnya ya..." katanya lirih sambil menahan tetes airmata. Sebenarnya orangtua dan keluarganya tahu hati sang anak ini lembut hanya saja tidak bisa ditebak. Buru-buru keluarlah sang anak dari ruang rawat sang ibu, khawatir kalau terurai airmata di sana akan menambah pilu sang ibu.
Lain halnya suasana di dalam ruang rawat, sang ibu tersenyum bahkan ada sedikit tawa yang ditujukan kepada anak perempuannya, fulanah. Masih dalam suasana haru akan peristiwa yang dia saksikan, fulanahpun bertanya kepada ibunya kenapa malah tersenyum-senyum. Beliaupun menjawab, "aku hanya ngetes apakah si fulan tadi masih lembut hatinya dan benar-benar menyayagi ibunya." Terjawab sudah kebingungan dia. Padahal selama ini ibunya tidak meminta uang secara terang-terangan, hanya pengertian dari anak-anaknya saja kenapa kok malah menjelang kepergiannya malah uang yang diminta. Ternyata terjawab sudah apa maksud dari ibunya.
Bisa diambil pelajaran bahwa pada detik-detik akhir usianyapun seorang ibu tak henti memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Demikianlah cerita dari seorang teman dan uang yang diberi oleh sang fulanpun kemudian dibagi-bagikan kepada cucu-cucunya dan anak serta kerabat yang lebih membutuhkan. Sungguh seorang ibu adalah pendidik dan manajer yang handal.
Salut dan hormat serta sayang untuk ibu...
Manfaatkan waktu bagi saudara-saudaraku yang ibu dan ayahnya masih ada didunia ini.
Jangan sampai sesal mengikuti langkah kita.
Bagi yang sudah ditinggal pergi marilah kita do'akan untuk kebahagiaan mereka di alam sana. Amin.
*mohon maaf bila ada kisah/kejadian yang sama, kami hanya bermaksud untuk mengambil ibrah (pelajaran) dari sebuah kehidupan.
Minggu, 05 Juli 2009
Selasa, 21 April 2009
Sebuah Perubahan
Dulu, tanpa kusadari aku telah menyakiti hati orang tua.
Dulu, sering mengomentari saudaraku
Dulu, tanpa kusadari telah menyakiti teman-temanku
Dulu, tanpa kusadari telah berlaku sinis kepada kawanku
Dulu, sering ku menyalahkan lingkunganku
Dulu…
Dulu…
Dulu…
Dengan dalih ingin mengamalkan ilmu yang diterima
Aku tidak berfikir dua kali untuk berkata sinis
Merasa sok tahu bila dinasehati orang tua
Tausyiah orang alim dilewatkan
Merasa diri ini benar
Merasa yang lain salah
Hanya yang benar-benar sefaham yang aku dengarkan
Yang aku setujui
Dan yang aku dukung
Menganggap mereka lemah iman
Menganggap mereka tersesat
Menganggap mereka keluar dari nilai-nilai islam
Menganggap…
Menganggap…
Menganggap…
Hari demi hari
Minggu demi minggu
Bulan demi bulan
Tahun berganti tahun
Tahun pertama..
Tahun kedua..
Tahun ketiga..
Dst…dst…
Hingga tiba saatnya aku berfikir…
Katanya orang beriman tidak mengenal stress
Katanya sesama muslim itu bersaudara
Katanya tidak boleh menganggap golongan sendiri itu paling benar
Katanya tidak boleh mengolok suatu kaum karena mungkin kaum itu lebih baik dari kaum sendiri…
Katanya tidak boleh su’udzon…
Katanya..
Katanya…
Katanya…
Namun setelah introspeksi
Kok apa yang dilakukan malah berlawanan dengan semua itu, padahal aku merasa semua yang kuperbuat lagi-lagi dengan dalih ingin menjadi muslim yang kaffah, ingin menjadi golongan orang-orang mukmin.
Suka su’udzon terhadap orang yang tidak sefaham
Suka mencibir kaum lain (notabenenya mereka muslim taat)
Menganggap golongan sendiri adalah yang benar sedang golongan yang lain adalah salah
Sesama saudara muslim bersaing hingga ukhuwah islamiyahnya koyak…
Ujung-ujungnya otak terasa panas, kepala berat karena tidak bisa menerima realita, dan keikhlasan untuk meraih ridho Allah ternyata semu.
Karena malu terhadap teman klo tidak sesuai dengan ilmu yang didapat,
malu karena begini malu karena begitu ….
Ternyata itu semua bukan malu terhadap Allah tapi malu terhadap guru, malu terhadap murobbi, malu terhadap teman, dan orang-orang….(terkadang sekarang pun masih merasa demikian…namun tetap berusaha untuk Lillahita’ala…mengharap ridho Allah, insyaAllah)
Hingga stress pun muncul karena menahan beban berat dikepala karena target yang tak tercapai…
Setelah sekian tahun waktu demi waktu akhirnya ku mendapatkan jawaban kenapa beban terasa beraaaaat, otak terasa panas, kepala pening…
Itu semua terjadi karena kurang berserah diri, kurang tawakal, dan mungkin tanpa kusadari yang aku lakukan bukan karena mencari keridhoanNya tapi mencari nilai dimata manusia.
Berbuat ikhlas memanglah tidak mudah tapi harus bisa.
Kini selalu berusaha untuk tawakal apapun yang terjadi berusaha dan berdo’a hasilnya dikembalikan kepadaNya…maka akan bisa menghadapi hidup ini dengan lebih percaya diri…
Semoga Allah senantiasa melindungi dan menunjukkan jalan yang diridhoiNya…Amin…
Dulu, sering mengomentari saudaraku
Dulu, tanpa kusadari telah menyakiti teman-temanku
Dulu, tanpa kusadari telah berlaku sinis kepada kawanku
Dulu, sering ku menyalahkan lingkunganku
Dulu…
Dulu…
Dulu…
Dengan dalih ingin mengamalkan ilmu yang diterima
Aku tidak berfikir dua kali untuk berkata sinis
Merasa sok tahu bila dinasehati orang tua
Tausyiah orang alim dilewatkan
Merasa diri ini benar
Merasa yang lain salah
Hanya yang benar-benar sefaham yang aku dengarkan
Yang aku setujui
Dan yang aku dukung
Menganggap mereka lemah iman
Menganggap mereka tersesat
Menganggap mereka keluar dari nilai-nilai islam
Menganggap…
Menganggap…
Menganggap…
Hari demi hari
Minggu demi minggu
Bulan demi bulan
Tahun berganti tahun
Tahun pertama..
Tahun kedua..
Tahun ketiga..
Dst…dst…
Hingga tiba saatnya aku berfikir…
Katanya orang beriman tidak mengenal stress
Katanya sesama muslim itu bersaudara
Katanya tidak boleh menganggap golongan sendiri itu paling benar
Katanya tidak boleh mengolok suatu kaum karena mungkin kaum itu lebih baik dari kaum sendiri…
Katanya tidak boleh su’udzon…
Katanya..
Katanya…
Katanya…
Namun setelah introspeksi
Kok apa yang dilakukan malah berlawanan dengan semua itu, padahal aku merasa semua yang kuperbuat lagi-lagi dengan dalih ingin menjadi muslim yang kaffah, ingin menjadi golongan orang-orang mukmin.
Suka su’udzon terhadap orang yang tidak sefaham
Suka mencibir kaum lain (notabenenya mereka muslim taat)
Menganggap golongan sendiri adalah yang benar sedang golongan yang lain adalah salah
Sesama saudara muslim bersaing hingga ukhuwah islamiyahnya koyak…
Ujung-ujungnya otak terasa panas, kepala berat karena tidak bisa menerima realita, dan keikhlasan untuk meraih ridho Allah ternyata semu.
Karena malu terhadap teman klo tidak sesuai dengan ilmu yang didapat,
malu karena begini malu karena begitu ….
Ternyata itu semua bukan malu terhadap Allah tapi malu terhadap guru, malu terhadap murobbi, malu terhadap teman, dan orang-orang….(terkadang sekarang pun masih merasa demikian…namun tetap berusaha untuk Lillahita’ala…mengharap ridho Allah, insyaAllah)
Hingga stress pun muncul karena menahan beban berat dikepala karena target yang tak tercapai…
Setelah sekian tahun waktu demi waktu akhirnya ku mendapatkan jawaban kenapa beban terasa beraaaaat, otak terasa panas, kepala pening…
Itu semua terjadi karena kurang berserah diri, kurang tawakal, dan mungkin tanpa kusadari yang aku lakukan bukan karena mencari keridhoanNya tapi mencari nilai dimata manusia.
Berbuat ikhlas memanglah tidak mudah tapi harus bisa.
Kini selalu berusaha untuk tawakal apapun yang terjadi berusaha dan berdo’a hasilnya dikembalikan kepadaNya…maka akan bisa menghadapi hidup ini dengan lebih percaya diri…
Semoga Allah senantiasa melindungi dan menunjukkan jalan yang diridhoiNya…Amin…
Senin, 16 Februari 2009
STOK KESABARAN
Dulu sering mendengar ungkapan bahwa "yang lebih tua harus banyak mengalah", "yang lebih tua harus lebih bersabar", "yang lebih tua harus bisa menjadi panutan", yang lebih tua bla...bla...bla...
Seiring dengan bertambahnya usia perkawinan otomatis bertambah pula umur dan pengalaman (serta tak ketinggalan bertambah pula ujian dan cobaan), ternyata banyak pula hikmah yang bisa dipetik dari sebuah arti kehidupan.
Setelah mendapat cerita dari teman mengenai sekelumit kehidupannya dan akhirnya aku menelusuri kembali pengalaman pribadi tentang nilai kesabaran ternyata dapat diambil hikmah:
1. Anak muda/orang yang lebih muda ternyata harus mempunyai kesabaran yang lebih dalam menghadapi orang yang lebih tua (baca orang tua).
2. Orang yang lebih muda harus mempunyai kebesaran hati untuk mengalah dalam menghadapi orang yang lebih tua.
3. Orang yang lebih muda harus lebih bisa memahami apa yang dikehendaki orang yang lebih tua.
Jadi kesimpulannya sabar tidak hanya dimiliki oleh orang yang lebih tua dengan kata lain orang yang lebih muda harus mempunyai stok lebih banyak dalam segala hal dalam menghadapi orang yang lebih tua. Nha lho...
Tidak memungkiri ternyata anak-anak kami lebih berusaha memahami, mengerti dan mengalah terhadap kami sebagai orang tuanya...(jadi introspeksi diri...:-P)
Seiring dengan bertambahnya usia perkawinan otomatis bertambah pula umur dan pengalaman (serta tak ketinggalan bertambah pula ujian dan cobaan), ternyata banyak pula hikmah yang bisa dipetik dari sebuah arti kehidupan.
Setelah mendapat cerita dari teman mengenai sekelumit kehidupannya dan akhirnya aku menelusuri kembali pengalaman pribadi tentang nilai kesabaran ternyata dapat diambil hikmah:
1. Anak muda/orang yang lebih muda ternyata harus mempunyai kesabaran yang lebih dalam menghadapi orang yang lebih tua (baca orang tua).
2. Orang yang lebih muda harus mempunyai kebesaran hati untuk mengalah dalam menghadapi orang yang lebih tua.
3. Orang yang lebih muda harus lebih bisa memahami apa yang dikehendaki orang yang lebih tua.
Jadi kesimpulannya sabar tidak hanya dimiliki oleh orang yang lebih tua dengan kata lain orang yang lebih muda harus mempunyai stok lebih banyak dalam segala hal dalam menghadapi orang yang lebih tua. Nha lho...
Tidak memungkiri ternyata anak-anak kami lebih berusaha memahami, mengerti dan mengalah terhadap kami sebagai orang tuanya...(jadi introspeksi diri...:-P)
Minggu, 15 Februari 2009
Kesungguhan pembuka jalan...
Pagi hari hujan tiba-tiba, meski tidak seberapa lama dan tidak begitu deras namun cukup mengagetkan karena saat itu pagi hari nampak cerah, tak ada tanda-tanda akan turunnya hujan.
Hari itu dijadwalkan acara arisan teman haji bertempat dikediaman kami. Kekhawatiran hari-hari sebelumnya adalah karena sedang musim hujan. Namun Allah menjawab doa dan tanya kami, bagaimana acara nanti sedangkan hari disaat musim hujan, dan di bulan Februari ini curah hujan cukup tinggi.
Alhamdulillah sepanjang menjelang acara, cuaca cukup cerah sehingga teman-teman banyak yang hadir setelah sekian lama vakum dari acara silaturrahim ini. Dan di rumah ini pula terbentuklah kepengurusan yang baru serta serahterima pengurus lama ke pengurus baru.
Dengan berkumpulnya kami telah membangkitkan rasa rindu akan kebersamaan kami di tanah suci dulu. Ingin rasanya kami mengadakan perjalanan ke tanah suci bersama-sama lagi. Mungkinkah itu? (didunia ini tidak ada yang tidak mungkin, bila Allah telah berkehendak.)
Dengan silaturrahim ini menguatkan rasa persaudaraan kami kembali, yang secara pribadi agak turun karena jarangnya kehadiranku (dan suami-red) pada acara2 seperti ini.
Menjelang acara usai barulah hujan mengguyur daerah kami, namun itu tak berlangsung lama bagaikan sekedar menyejukkan suasana di hari yang mulai agak panas.
Alhamdulillah acara berjalan lancar, tak kurang suatu apa. Semua atas pertolongan Allah disaat-saat hambanya merasa lemah, pasrah dan tawakal dan merupakan hadiah yang indah dari Allah karena melihat (insyaAllah) kesungguhan kami untuk melaksanakan jawdal pertemuan ini.
Sebelumnya pun aku merasakan disaat hati benar-benar dan bersungguh-sungguh dalam berbuat kebaikan maka Allah akan memudahkan dalam segala urusan itu...
Ya Allah berilah hamba azzam yang kuat dalam segala hal kebaikan, dan mudahkanlah dalam segala urusan. Amin.
Hari itu dijadwalkan acara arisan teman haji bertempat dikediaman kami. Kekhawatiran hari-hari sebelumnya adalah karena sedang musim hujan. Namun Allah menjawab doa dan tanya kami, bagaimana acara nanti sedangkan hari disaat musim hujan, dan di bulan Februari ini curah hujan cukup tinggi.
Alhamdulillah sepanjang menjelang acara, cuaca cukup cerah sehingga teman-teman banyak yang hadir setelah sekian lama vakum dari acara silaturrahim ini. Dan di rumah ini pula terbentuklah kepengurusan yang baru serta serahterima pengurus lama ke pengurus baru.
Dengan berkumpulnya kami telah membangkitkan rasa rindu akan kebersamaan kami di tanah suci dulu. Ingin rasanya kami mengadakan perjalanan ke tanah suci bersama-sama lagi. Mungkinkah itu? (didunia ini tidak ada yang tidak mungkin, bila Allah telah berkehendak.)
Dengan silaturrahim ini menguatkan rasa persaudaraan kami kembali, yang secara pribadi agak turun karena jarangnya kehadiranku (dan suami-red) pada acara2 seperti ini.
Menjelang acara usai barulah hujan mengguyur daerah kami, namun itu tak berlangsung lama bagaikan sekedar menyejukkan suasana di hari yang mulai agak panas.
Alhamdulillah acara berjalan lancar, tak kurang suatu apa. Semua atas pertolongan Allah disaat-saat hambanya merasa lemah, pasrah dan tawakal dan merupakan hadiah yang indah dari Allah karena melihat (insyaAllah) kesungguhan kami untuk melaksanakan jawdal pertemuan ini.
Sebelumnya pun aku merasakan disaat hati benar-benar dan bersungguh-sungguh dalam berbuat kebaikan maka Allah akan memudahkan dalam segala urusan itu...
Ya Allah berilah hamba azzam yang kuat dalam segala hal kebaikan, dan mudahkanlah dalam segala urusan. Amin.
Jumat, 26 Desember 2008
hari baru hijriyah dan masehi
tahun baru tinggal menghitung hari...
harus bisa menata hidup lebih baik lagi
menjadi istri yang menyenangkan suami
menjadi ibu yang membahagiakan anak
menjadi manusia yang berguna bagi ummat
semoga Allah memudahkan langkah
Amin ya Yabbal 'alamin
harus bisa menata hidup lebih baik lagi
menjadi istri yang menyenangkan suami
menjadi ibu yang membahagiakan anak
menjadi manusia yang berguna bagi ummat
semoga Allah memudahkan langkah
Amin ya Yabbal 'alamin
Sabtu, 29 November 2008
hikmah dari seorang anak
Tadi pagi, hari sabtu, begitu bangun dari bermalas-malasan, kutemukan secarik kertas yang berisi tulisan dengan warna warni pena.
Ku baca ternyata isinya ucapan selamat ulang tahun dari anakku nomor dua yang berumur 10th. Terharu aku membacanya. Di dalamnya terdapat kata-kata "you are a perfect mother".
Twiwwingg ...langsung hatiku menciut...perfect mother? Benarkah aku ibu yang sempurna?
Bukankah aku ini suka marah?
Karena penasaran aku tanyakan ke dia, kan mama suka marah? Dia pun menjawab santai. "Ah, enggak juga..."
Agak bingung juga sih...dia beranggapan begitu. Dan dia beranggapan apa yang dilakukan ibu adalah benar. Lalu berfikirlah otakku berarti apa yang kita lakukan haruslah berhati-hati karena anggapan pembenaran tadi akan menimbulkan pencotntohan/meniru hal-hal yang dianggapnya benar.
Satu lagi hikmah yang bisa diambil, ternyata anak-anak adalah seorang pemaaf. Kesalahan yang kita lakukan dengan mudahnya dia maafkan dan lupakan.
Satu hikmah yang bisa dipetik dihari yang bersejarah bagi diriku. Semoga akupun bisa menjadi orang yang pemaaf, dan lebih berhati-hati dalam berbuat. Amin.
Ku baca ternyata isinya ucapan selamat ulang tahun dari anakku nomor dua yang berumur 10th. Terharu aku membacanya. Di dalamnya terdapat kata-kata "you are a perfect mother".
Twiwwingg ...langsung hatiku menciut...perfect mother? Benarkah aku ibu yang sempurna?
Bukankah aku ini suka marah?
Karena penasaran aku tanyakan ke dia, kan mama suka marah? Dia pun menjawab santai. "Ah, enggak juga..."
Agak bingung juga sih...dia beranggapan begitu. Dan dia beranggapan apa yang dilakukan ibu adalah benar. Lalu berfikirlah otakku berarti apa yang kita lakukan haruslah berhati-hati karena anggapan pembenaran tadi akan menimbulkan pencotntohan/meniru hal-hal yang dianggapnya benar.
Satu lagi hikmah yang bisa diambil, ternyata anak-anak adalah seorang pemaaf. Kesalahan yang kita lakukan dengan mudahnya dia maafkan dan lupakan.
Satu hikmah yang bisa dipetik dihari yang bersejarah bagi diriku. Semoga akupun bisa menjadi orang yang pemaaf, dan lebih berhati-hati dalam berbuat. Amin.
Kamis, 27 November 2008
hari ini...
tak terasa mengalir bulir-bulir airmata...
satu demi satu meluncur...
bagai bola salju yang menggelinding dari puncak gunung
hari ini...
anganku melayang ke masa silam...
waktu-waktu yang telah lalu...
mengingatkanku akan seseorang...
hari ini...
aku mengantar sepasang insan...
namun hanya lewat lisan...
yang hanya dibekali dengan doaku....
hari ini...
aku mempunyai suatu harapan
yang mungkin menjadi harapan mereka yang mencintainya...
untuk lebih memantabkan sebagai penebus kesalahan...
hari ini...
aku tersedu tanpa ada yang tahu...
dan tiada yang memperhatikan...
dalam kesendirian...
hari ini...
hatiku hanyut dalam kenangan...
sebuah penyesalan dan permohonan...
saudaraku...
kulepas kepergianmu...
memenuhi undangan dari Tuhanmu...
jangan kaulupakan...
akan pesanku...
tak terasa mengalir bulir-bulir airmata...
satu demi satu meluncur...
bagai bola salju yang menggelinding dari puncak gunung
hari ini...
anganku melayang ke masa silam...
waktu-waktu yang telah lalu...
mengingatkanku akan seseorang...
hari ini...
aku mengantar sepasang insan...
namun hanya lewat lisan...
yang hanya dibekali dengan doaku....
hari ini...
aku mempunyai suatu harapan
yang mungkin menjadi harapan mereka yang mencintainya...
untuk lebih memantabkan sebagai penebus kesalahan...
hari ini...
aku tersedu tanpa ada yang tahu...
dan tiada yang memperhatikan...
dalam kesendirian...
hari ini...
hatiku hanyut dalam kenangan...
sebuah penyesalan dan permohonan...
saudaraku...
kulepas kepergianmu...
memenuhi undangan dari Tuhanmu...
jangan kaulupakan...
akan pesanku...
Langganan:
Postingan (Atom)